Powered by Blogger.
RSS

Mobil Pribadi, Ooh... Mobil Pribadi

     Karena ada beberapa keperluan, si moms mengajak saya belanja ke Tanah Abang. Sebenarnya malas sih, coz lagi musim panas, perjalanan juga jauh dan karena liburan pasti bakalan ramai. Tapi yasudlah akhirnya kita berangkat juga, dengan kopaja keliling kota wkwk.
     Tapi beberapa ratus meter dari tempat bertolak, ada sedikit kejadian yang tak mengenakkan body. Jalanan macet, cet, cet dan si sopir tiba-tiba menabrak pembatas jalan bus way, itu tuh batas yang menghalangi antara jalan biasa sama jalur yang khusus bus way. Lalu berjalanlah kopaja kita melenggang di dalam jalur busway. Pantesan tadi kaya'nya kondektur sama sopir kaya ngasih aba-aba ke penumpang, yang sudah terbiasa sih mungkin ngga akan kaget yah. Tapi tetep aja ada rasa khawatir kalau-kalau nanti ketabrak sama transjakarta gimenong? Yang salah kan kopajanya kenapa masuk2 lahan orang, mengganggu jalan orang? Sempet dongkol aja sama sopirnya, tapi begitu saya lihat sebelah kiri saya, mobil pribadi... mobil pribadi... mobil, weeew... sepanjang jalan yang macet itu isinya mobil pribadi semuah! Yah, ngga bisa salahin sopir2 angkot kalaw gini caranya mah. Kalau mereka harus tetap dalam antrian, menunggu dengan setia di belakang, bisa kelar berapa jam? Bisa-bisa sehari ngga kekejar setorannya, trus anak di rumah makan apa? 

     Setelah bolak-balik jalur biasa-jalur bus way, mengguncang penumpang yang ada didalamnya, akhirnya kopaja ini masuk lagi dalam antrian kemacetan yang tidak begitu panjang. Was-was aja lah tadi bawaannya tapi akhirnya kembali pada jalan yang benar juga. Setelah agak lama berada dalam antrian, akhirnya jalanan jadi lumayan lancar, cuma ketika saya melirik sebelah kanan saya, hell yah... di belakang transjakarta berderet mobil2 pribadi, ikutan masuk ke jalur terlarang!!! What...the...!!?  Dalam hati udah berkomat-kamit aja, "Ya Allah semoga diri kami terhindar dari dosa besar sosial seperti yang mereka lakukan, semoga hati kami terhindar dari keinginan yang menimbulkan kutukan karena menyengsarakan banyak orang, semoga pikiran kami terbebas dari ketamakan yang menimbulkan banyak mudharat (yang para pemilik mobil pribadi pun pasti sudah tahu dan sangat mengerti, tapi "selama enak di gue, why not?").

Amin.


Salam,
-selamanya angkoters-

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Review : Momoyama Riri

     Ternyata baru bisa review sekarang, padahal janjinya seminggu, mian hae~... Langsung aja yah check it out! Momoyama Riri adalah satu tokoh dalam dorama yang berjudul Anna san No Omame. Di dalam dorama ini diceritakan seseorang bernama Anna yang baik hati, ramah, pintar, kalem sangadh daaan point pentingnya adalah cantik bak bidadari, pokoknya tipikal gadis yang jadi impian semua laki-laki. Tapi di dorama ini dia bukan pemeran utamanya, yang jadi tokoh utama disini adalah....temannya.

Momoyama Riri

     Berbanding terbalik dengan Anna, si Riri/Lily ini orangnya superrr heboooh, dimulai dari dandanannya, cara bicaranya and tingkah lakunya. Mungkin semua berasal karena dia adalah anak dari keluarga kaya raya, putri satu-satunya yang sangat dimanja oleh orang tua dan kakak laki-lakinya. Tapi yang jadi masalah utama disini adalah rasa ke-PeDe-an and ke-Ge-Er-annya yang sangat tinggi, dia merasa seakan-akan semua orang tertarik padanya, suka atau nge-fans sama dia. Meskipun bikin sebel setengah mati, tapi jadi kocak juga ngeliatnya. Liat aja nih tampangnya :

eeeh? aa..ta..shii..??

     Kalau diliat-liat si Riri ini sifatnya sangat mirip dengan Sharpay Evans. Pecinta film musikal produksi Disney, "High School Musical" pasti hafal banget sama tokoh satu ini. Segala-galanya bisa hancur berantakan karena ketamakan dan keegoisannya. Apapun akan dilakukan agar semuanya menjadi miliknya meskipun harus mengkhianati adik kembarnya sendiri, Ryan Evans, dan semua yang ada disekelilingnya harus serba khusus, fabulous and marvelous. Meskipun mirip sifatnya tapi Riri ngga sejahat Sharpay, sebenarnya hatinya baik dan masalah yang rumit ngga akan muncul kalau saja sifat 'serasa', over PD and GR, selalu salah paham-nya ilang. (tapi nanti doramanya bakal ngga kocak kali yach hhe). Yang ngga nyangkanya, tokoh super duper menyebalkan ini diperankan sama Becky, sama sekali ngga nyangka deh, Becky bisa jadi 'ancur' kaya gini wkwk... Jago and total banget meraninnya, sama sekali ngga ada bayang2 Becky-nya.

Sharpay Evans


     Buat yang penasaran, bisa langsung dilihat doramanya di situs2 streaming. Sedikit info nih (spoiler), jangan mengharapkan ending yang terlalu luar biasa. Sama seperti kebanyakan dorama Jepang lainnya. Tipikal ending-nya bukan and ngga akan pernah seperti yang kita harap-harapkan. Ngga akan ada ending seperti Full House, bahagia pada akhirnya dan titik, berhenti sampai situ. Seperti film "Boku To Star No 99 Nichi", yang main memang ada artis Koreanya, Kim Tae Hee dan Ok Taec Yeon (2PM), tapi karena yang bikin orang Jepang, ending-nya pun menjadi kejepangan. Mungkin kalau orang Koreanya yang bikin, dorama itu akan berakhir di episode sebelumnya, mereka jadi menikah dan mungkin akan bahagia selamanya. 

 Tapi ini dorama Jepang, yang ending-nya mereka akhirnya berpisah dan terus berusaha menggapai mimpinya masing-masing, dan ketika ada waktu libur barulah mereka bertemu. Di film inipun padahal akhirnya ada yang benar2 tulus mencintai dan menerima Riri apa adanya, bahkan melamarnya. Tapi...

     Yah, satu hal yang jadi pelajaran buat kita juga. Bahagia (untuk diri sendiri) bukanlah merupakan akhir. Ada kewajiban menjalankan dan mewujudkan apa yang menjadi impian dan tujuan hidup kita. Karena, hidup akan terus dan terus berjalan sampai waktu yang menentukan...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Tomato + Pepino = ???

     Tadi malam, abis ngobrol ngalor ngidul seperti biasa, si moms tiba-tiba bilang minta dibikinin jus tomat, pake tomat sayur yang ada di kulkas. Pas liat kulkul ternyata ada buah asing gitu mojok berdua. Well, mungkin kalau diliat dari bentuknya sih ngga asing-asing amat secara masih satu keluarga sama terong. Namanya Pepino (si sayah denger namanya aja baru pertama kali #katro mode-on). Kemarin pas mom touring ke bandung -di traktir jalan2 sama kepala sekolah katanya- dibawakanlah oleh-oleh khas sana, salah satunya buah pepino ini. Warna mirip banget sama terong, tapi bentuk agak bengkok-bengkok dan lebih gendut. Tekstur buah 11-12 sama melon, tapi rasanya ngga begitu manis, sedikit hambar tapi sedikit asam (silakan dibayangkan deh xixi, saya sendiri juga binungz).
     Karena rasa yang ngga begitu menarik inilah, maka si pepino ini jarang ada yang makan, nowel pun tidak. Saya pikir daripada sayang kalau dibiarkan bisa keburu busuk, mending di campur aja sama jus tomat pesanan mamah. And hasilnya… jreng jeng jeeeng… Hmm rasanya dahsyat mameeen! Walaupun pake air biasa (bukan es) tapi karena buahnya udah lama di kulkul jadi berasa seger2 nyess di tenggorokan, dan diantara rasa tomat yang pekat ada rasa seger tersendiri (yang agak membingungkan xixi). Tips yang always itsumo selalu dilontarkan sama bapake kalaw ada yang bikin jus => "gulanya dikit aja, jangan banyak-banyak!" emang manjur banget, selain karena kalau kebanyakan bisa nambah2in kalori, kalau terlalu manis bisa bikin eneg, dan acara minum jus-nya hanya sampai situ aja (pas rasa eneg datang), kalau gulanya sedikit, rasa asli buahnya muncul (ngga ketutupan sama manis gula), jadi bikin nagih lagi dan lagi... 


      Buat yang tidak tertarik sama makanan kecuali kalau tau info2 tentang khasiat makanannya, atau untuk kamu-kamu yang jadi suka makan makanan tsb begitu tau manfaatnya (seperti saya), berikut ini saya share hasil searching dari berbagai sumber.

Manfaat Tomat : 1. Antioksidan (vitamin A dan C), 2. Mata Sehat, 3. Mencegah Kanker, 4. Menguatkan Jantung, 5. Kulit Cantik, 6. Rambut Sehat, 7. Tulang Kuat dlll.

Manfaat Pepino :  Banyak yang menyebutnya sebagai "buah pemberantas penyakit" karena banyak macam-macam sakit yang bisa dicegah dan disembuhkan dengan memakannya, misalnya : kanker, stroke, hipertensi, diabetes, serta menurunkan kadar kolesterol darah. Selain kaya vitamin dan mineral yang bagus untuk stamina, pepino juga kaya serat dan betakaroten yang baik untuk pencernaan dan kesehatan penglihatan (subhanallaah ^_^).

Jadi, Tomato + Pepino = Super Ultra Incredible Marvelous Combination Fruits

hehee =3

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Another Story of "Ahlan Wa Sahlan"

     Satu lagi sebuah kisah inspiratif yang juga sangat romantis. Sebuah kisah dibalik kata “Ahlan Wa Sahlan”. Silakan dinikmati.

     Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah adalah teman karib semenjak kecil, puteri tersayang Rosulullah. Ali bin Abi Thalib sejak Fatimah masih kanak-kanak sudah memperhatikan sifat dan tingkah lakunya, yaitu pada suatu hari ketika ayahnya (Rosulullah) pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan dengan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah (sang ayah yang Tepercaya) tidak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik (Fatimah) itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah, di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Ali bin Abi Thalib tak tahu apakah rasa itu (selalu memperhatikan sifat dan tingkah laku Fatimah) disebut cinta?. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan bahwa Fathimah dilamar oleh seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

     ”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin Ali bin Abi Thalib. Ia merasa diuji karena merasa, apalah ia dibanding dengan Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakar lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti Ali bin Abi Thalib, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan Rasul-Nya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakar menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara Ali bin Abi Thalib bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakar berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakar; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab. Sedangkan aku (Ali bin Abi Thalib) semasa kanak-kanak kurang pergaulan. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakar; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud. Siapa budak yang dibebaskan Ali bin Abi Thalib? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah. Ali bin Abi Thalib hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.
”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam Ali bin Abi Thalib. ”Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”. Cinta tak pernah meminta untuk menanti, tapi mengambil kesempatan atau mempersilakannya. Dan cinta itu membutuhkan keberanian atau pengorbanan.

     Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakar ditolak, dan Ali bin Abi Thalib terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri menyambut Fathimah. Tapi, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakar mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut, yaitu Umar bin Khaththab.

     Ya, Al Faruq, sang pembeda antara kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. Umar bin Khaththab memang masuk Islam belakangan, sekitar tiga tahun setelah Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya Umar bin Khaththab dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, Ali bin Abi Thalib mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakar dan Umar bin Khaththab, aku keluar bersama Abu Bakar dan Umar bin Khaththab, aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar bin Khaththab..”.  Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasulullah, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana Umar bin Khaththab melakukannya?. Ali bin Abi Thalib menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan Rosulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam, maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.
Umar bin Khaththab  telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’. Umar bin Khaththab adalah lelaki pemberani, sedangkan aku (Ali bin Abi Thalib), sekali lagi sadar. Bila dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah, apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak.  Umar bin Khaththab  jauh lebih layak, dan Ali bin Abi Thalib pun ridha.
Sekali lagi cinta tak pernah meminta untuk menanti. tapi mengambil kesempatan atau mempersilakannya. 

     Dan cinta itu membutuhkan keberanian atau pengorbanan. Maka Ali bin Abi Thalib pun bingung ketika mendengar kabar lamaran Umar bin Khaththab  juga ditolak.
Ingin menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Rosulullah? Yang seperti ’Utsman bin Affan, sang miliyader yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri  Ali bin Abi Thalib. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?.

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunannya.
”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Rosulullah.. ”.
 Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”.
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”.
Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

     Ali bin Abi Thalib pun menghadap Rosulullah, maka dengan memberanikan diri untuk menyampaikan keinginannya menikahi Fathimah. Ya, menikahi, dengan sadar secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

     Lamarannya terjawab, ”Ahlan wa sahlan!” . Kata itu meluncur tenang bersama senyum Rosulullah. Dan Ali bin Abi Thalib pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi saw kawan?
Bagaimana lamaranmu?”.
”Entahlah..”.
”Apa maksudmu?”.
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban ?”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka.
”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”.

     Dan ’ Ali bin Abi Thalib  pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
Ali bin Abi Thalib adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” . Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’ Ali bin Abi Thalib. Ia mempersilakan, atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan,  dan yang kedua adalah keberanian. 

     Ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi (Fathimah) dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda”. Ali bin Abi Thalib terkejut dan berkata, “Kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? lalu siapakah pemuda itu?”.
Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah dirimu”. 

     Kemudian Rosulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”.

     Selanjutnya, Rasulullah mendoakan keduanya: “Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4).

     Demikian yang dapat disampaikan, semoga dapat mengambil hikmahnya baik dari sisi si laki-laki maupun sisi perempuan dimana Ali bin Abi Thalib dan Fathimah merupakan dua orang hamba yang menghuni syurga. 

Sumber : diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0